The Choi [1]

They are rich, they are attractive, they are tall, they are siblings =)

Starring :

Siwon (Super Junior) — Sooyoung (SNSD) — Minho (SHINee) — Sulli (f(x))

When the perfect, the cheerful, the charismatic, and the cutie all together in one.

~^^~

Sebuah mobil audi TT berbelok di ujung jalan, memasuki sebuah kawasan super elit yang privat, tak sembarang orang dapat memasukinya, atau bahkan hanya sekedar melihatnya. Semua orang tahu, kawasan itu milik keluarga Choi, keluarga paling ternama di Korea. Mereka adalah penguasa pasar di Korea, bahkan mungkin sudah mencapai tingkat internasional.

Pintu gerbang ala kerajaan barat langsung terbuka secara otomatis saat mobil tersebut tepat berada 2 meter di depannya. Mobil mewah tersebut melaju melewatinya dengan kecepatan cukup tinggi. Derumannya menggema, membuat sebuah suara yang bahkan terkesan gagah. Terdengar juga dentuman lagu RnB yang diputar dalam mobil dengan setelan bass yang dikeraskan. Mungkin itu sedikit menganggu, tapi siapa yang peduli? Siapa yang berani peduli?

Seorang gadis keluar dari mobil tersebut. Tampilannya fashionable, dengan pakaian brand ternama yang membuatnya terlihat sporty.  Sebuah kacamata hitam bermerek turut melengkapi wajahnya, membuatnya terlihat sedikit misterius. Rambutnya dipotong pendek, membuat kesan sedikit acak-acakan tapi dengan detil luar biasa. Tentu saja potongan seperti itu hanya bisa dikerjakan oleh penata rambut yang berani memasang harga tidak main-main untuk guntingan rambutnya. Celana jeans ketat tidak menyembunyikan bentuk kakinya yang panjang dan indah. Dan sepasang high heels yang tidak mungkin ditemukan di etalase toko-toko di Myeondong dan bahkan merupakan rare-item di pertokoan kelas mapan seperti Apgujeong dan Gangnam, mengalasi telapak kakinya, menopang tubuhnya yang sudah tinggi menjadi semakin tinggi. Intinya, penampilan gadis tersebut tidak mungkin membuat lawan jenisnya hanya sekedar meliriknya, dan sesama jenisnya tidak merasa iri akan penampilan nona besar ini, Choi Sooyoung.

Seorang pria tengah baya dengan pakaian formal langsung menyambutnya, membungkuk padanya.

“Selamat datang, nona. Tuan muda mencari anda dari tadi,” kata kepala pelayan Kim sambil menerima kunci mobil yang disodorkan Sooyoung padanya.

Sooyoung menarik nafas. Kakaknya selalu saja begitu. Sooyoung hanya meminjam mobilnya sebentar, bahkan ia tidak merelakannya. Apa lusinan mobil mewah setara Mercedes Benz dalam garasi mereka terlalu jelek untuk ditukar beberapa jam dengan Audi TT-nya? Menyebalkan!

“Ah, Nona,” panggil kepala pelayan Kim lagi saat Sooyoung telah melangkahkan kakinya. Sooyoung menghentikan langkahnya tanpa melirik ke belakang.

“Teman Anda telah menunggu di ruang tamu.”

Sooyoung melangkahkan kakinya riang melewati jalan kecil terbuat dari batu yang memang sengaja dibuat agar orang yang lewat tidak menginjak taman bunga yang luasnya sampai mencapai satuan hektare itu. Jangan bayangkan berapa biaya yang habis hanya untuk taman bunga yang luar biasa ini, bahkan harga rumput per meternya pun bisa membuatmu sakit hati.

Tepat seperti dugaan Sooyoung, seorang gadis terlihat duduk di ruang tamunya tepat setelah ia membuka pintu rumahnya yang elegan itu. Dia adalah Hwang Mi Young, sahabat Sooyoung yang adalah orang Korea tapi lama dan besar di Amerika. Karena itu Sooyoung lebih suka memanggilnya Tiffany, panggilannya di sana.

“Maafkan aku, Fany. Tadi ada sedikit urusan jadi aku terlambat. Kau pasti bosan sekali di sini.”

Tiffany tertawa kecil, memperlihatkan eyesmile-nya yang khas. “Tidak mungkin ada orang yang bosan tinggal selama apa pun di ruang tamu seperti ini.”

Tentu saja. Ruangan ini lebih mirip lobby hotel dibandingkan ruang tamu.

Sooyoung ikut tertawa mendengar perkataan Tiffany. “Tidak juga. Buktinya aku sering merasa bosan berada di sini.”

“Aku lebih bosan lagi menunggu mobilku yang dipinjam tanpa izin dikembalikan.”

Sooyoung dan Tiffany menoleh ke sumber suara itu. Seorang pria terlihat dengan pakaian casual yang tampak berkelas. Bajunya yang ketat tidak mampu menyembunyikan badannya yang jadi. Penampilannya berwibawa dengan segala macam pakaian dan aksesoris  ber-brand yang menutupi tubuhnya. Lekuk wajahnya sempurna, seperti malaikat yang dipilih Tuhan, bahkan ketika ekspresi marah terlihat jelas di wajahnya, seperti sekarang ini.

“Sudah berapa kali aku bilang,  jangan pernah sentuh mobilku. Apa aku harus menulisnya di wajahmu supaya kau selalu ingat?” katanya menumpahkan segala kemarahan yang mungkin sedari tadi dipendamnya.

“Oh. Ayolah, Oppa. Apa sih susahnya bagimu, hanya tinggal memilih salah satu dari mobil di garasi dan mengambil kuncinya,” rengek Sooyoung melihat kakaknya yang marah.  Sooyoung memang menyukai mobil kakaknya dari dulu dan memang sedang bosan memakai golf cabriolet-nya. Ternyata mobil keluaran volswagen itu tidak cukup membuatnya puas.

“Kenapa itu tidak kaukatakan pada dirimu sendiri, Choi Sooyoung. Berhentilah bersikap egois dan membuatku terlambat dengan janji-janjiku!” kata pria itu agak kasar, namun tetap elegan. Ia pun berlalu dari tempat itu dengan muka ditekuk yang bagaimana pun tetap terlihat sempurna.

Sooyoung menarik nafas. Ia tahu ini akan terjadi. Bukan Choi Si Won, sang pewaris utama Choi Group, kalau tidak begitu. Tapi tetap saja itu membuat Sooyoung kesal. Bukankah seharusnya Siwon tidak berkata seperti itu di depan Tiffany?

Sooyoung melihat sahabatnya yang berdiri di sampingnya, mematung melihat kepergian kakaknya. Berkali-kali Tiffany datang ke rumah ini, berkali-kali Tiffany melihat Siwon, dan berkali-kali itu pula  reaksi yang diberikan sahabatnya ini pun seperti ini. Ya, karisma kakaknya memang mampu menyita perhatian siapa saja. Bahkan dirinya sendiri, kadang-kadang. Tapi untunglah ia bukan brother complex semacam itu.

Is my brother so attractive that much?

Tiffany tertawa mendengar pertanyaan Sooyoung, seperti menjawab kau-tidak-perlu-menanyakannya.

“Hampir semua teman-teman wanitaku, bahkan beberapa pria minta dikenalkan dengannya. Apa kau salah satunya?”

Tiffany berpikir sebentar lalu menggeleng. “Kakakmu terlalu sempurna. Aku tidak seberani itu.”

Sooyoung tertawa mendengarnya. Baru kali ini ada temannya yang menolaknya dikenalkan dengan Siwon dan berkata seperti itu. Apalagi orang seperti Tiffany. Menurutnya Tiffany lumayan cocok untuk kakaknya.

“Oh ya, aku belum cerita padamu. Kemarin aku bertemu dengan seorang pria di kelab. Namanya Jang Wooyoung,” kata Tiffany yang sepertinya baru ingat kalau ia harus menceritakan sesuatu.

“Ceritakan!” kata Sooyoung antusias.

Yeah, he’s a kind of sweet and cute guy. I like him.

Sooyoung tersenyum mendengar kelanjutan cerita Tiffany. Tak ada yang tahu sebenarnya Sooyoung sangat iri pada Tiffany yang bisa bermanja-manja pada lelaki yang disukainya. Sedangkan Sooyoung? Sampai saat ini ia belum menemukan lelaki yang sepadan untuk dirinya. Selain karena statusnya, masalah terbesar lain adalah tinggi badannya. Kapan ia bisa seperti Tifanny, bersandar pada bahu orang yang disukainya sesuka hati? Dan sepertinya itu tidak mungkin pernah terjadi.

Sooyoung menarik nafas panjang dan menyimpan semua rasa irinya dalam hatinya.

~^^~

Seorang gadis remaja melihat pemandangan itu dari lantai atas rumah mewahnya. Ia terlihat muram, namun tetap cute dengan style nya yang menarik.

Choi Jinri, tidak mungkin ada yang tidak suka dengan penampilan anak bungsu keluarga Choi ini. Dia adalah seorang gadis manis, sungguh. Dan ia mempunyai postur tubuh yang bagus. Dia juga seorang yang supel, bahkan teman-teman oppa dan unnie-nya sangat menyukainya. Seperti Heechul, salah seorang teman main Siwon, dan juga Tiffany. Mereka sudah menganggap Jinri seperti adik sendiri.

Well, ya. Itulah masalahnya. Jinri memang dekat dengan teman-teman kakaknya, tapi tidak dengan kakaknya.

Siwon. Entahlah, mungkin karena umur mereka yang terpaut lumayan jauh dan juga perangai Siwon yang kaku dan dewasa, Jinri tidak mengobrol banyak dengannya. Tapi setidaknya Jinri tahu, kakaknya yang satu ini selalu bertanggung jawab dan melindunginya.

Sedangkan Sooyoung? Jinri menarik nafas memikirkannya. Dari dulu Jinri mengagumi Sooyoung, mencontoh segala sesuatu dari unnie-nya. Tetapi entah mengapa ia tidak pernah bisa dekat dengan Sooyoung. Bahkan Jinri kadang-kadang merasa kalau Sooyoung itu tidak suka padanya, tidak peduli padanya. Tidak seperti Tiffany yang selalu baik padanya. Jinri hanya bisa berpikir, seandainya Sooyoung yang seperti itu padanya.

~^^~

Minho tidak dalam suasana hati yang baik hari ini. Tadi ia kalah bermain basket melawan seniornya di universitasnya. Ia tidak suka ini. Ia tidak suka kekalahan. Hal itu benar-benar menghancurkan moodnya sehingga ia langsung pulang sebelum jam kuliahnya selesai. Dan tentu saja tidak ada yang bisa protes akan apa yang dilakukannya, termasuk seluruh petinggi universitasnya. Tentu, siapa yang berani terhadap anak ketiga keluarga Choi yang terkenal itu. Terkenal punya uang, yang otomatis juga punya hak otoritas tinggi dalam segala hal. Bisa-bisa bila mereka macam-macam, tak akan ada lagi dana kucuran besar yang selama ini diberikan oleh keluarga Choi untuk mereka.

Minho menyebrangi kamarnya yang luas, mendapati kaca besar di sudut ruangannya itu. Bukan, ia bukan memperhatikan penampilannya yang sudah sangat-amat-teramat perfect dengan segala aksesoris branded yang kau-tidak-ingin-ketahui-harganya atau ABS-nya yang dijamin digilai oleh semuaorang, atau juga wajahnya tidak kalah mahalnya dengan tubuhnya dan penampilannya — bila itu semua bisa dihargai. Ia hanya menatap matanya sendiri dengan tatapan marah.

Damn!

Ia harus melupakan hal ini segera. Mungkin dengan mengayun stick billiard dan bermain bersama 15 bola yang tersusun rapi di ruang santai bisa membantu.  Kolam renang di halaman belakangn istananya juga cukup luas, sebenarnya. Ya, badannya memang harus banyak bergerak untuk dapat melupakan kekesalannya. Ia akhirnya memilih squash court sebagai tujuannya.

Ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Sepi, seperti biasa. Rumahnya yang luas memang terlalu sepi bila dibandingkan dengan orang-orang yang tinggal di rumahnya. Apalagi tanpa kedua orang tua mereka yang sedang mengurus bisnis keluarga di Amerika. Mungkin rumah ini baru akan ramai bila dijadikan hotel berlian.

Minho tersenyum melihat seseorang di sana, sedang melihat ke lantai bawah sambil termenung.

“Ya, Sulli-ah!”

Minho mendekati adiknya dan mengacak rambutnya. “Apa yang sedang kaulakukan?”

Kedua mata besar adiknya menatap Minho sebentar lalu tersenyum riang. Minho suka kedua bola mata besar milik adiknya, Choi Jinri. Namanya memang Choi Jinri, tapi semua orang memanggilnya Sulli. Nama yang biasa dipakai orang tua mereka.

“Oppa!” kata Sulli riang lalu memeluk Minho manja. Sulli memang sedikit manja, mungkin karena dia adalah anak bungsu. Tapi Minho menyukainya, membuatnya merasa semakin harus melindungi Sulli.

“Ya, ada apa di bawah sana? Memang tontonan di televisi kalah menarik dengan apa yang ada di bawah sana?”

Sulli menggeleng sedih mendengar pertanyaan Minho lalu menunjuk ke arah yang sedari tadi dipandanginyai. Pandangan Minho mengikuti telunjuk Sulli yang mengarah pada ruang tamu. Minho terdiam sebentar dan  ia mengangguk mengerti.

“Ada apa dengan noona? Apa yang dilakukannya terhadapmu?”

Sulli menggeleng lagi kali ini. “Justru dia tidak melakukan apapun padaku, oppa.”

Minho tersenyum prihatin mendengar jawaban dongsaeng kesayangannya itu. Ia mengerti apa yang dirasakan Sulli karena Sulli sering cerita pada Minho. Sebenarnya tanpa diceritakan pun seluruh orang juga pasti tahu kalau noona dan dongsaengnya ini tidak memiliki hubungan yang cukup baik.

“Apa aku pernah melakukan kesalahan pada unnie?”

Kali ini Minho hanya diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Sulli. Ia juga tidak tahu ada apa dengan noona-nya. Hubungan Minho sepertinya biasa saja dengan Sooyoung. Cukup baik malah. Mereka berdua kadang-kadang bermain game bersama jika ada waktu.

Sulli memandangnya lagi, menunggu jawabannya.

“Minho-ah! Kau tidak kuliah?”

Suara itu mengagetkan mereka berdua. Sooyoung sudah berada di ujung tangga dengan sahabatnya, Tiffany noona.

“Noona!” seru Minho salah tingkah. Untung saja ia tidak sedang bicara apa-apa dengan Sulli. “Hari ini aku sedang malas, jadi aku pulang duluan.”

“Dasar kau ini, tidak pernah berubah. Ya sudahlah, aku mau ke kamar dengan Fany. Jangan ganggu aku!”

Kata-kata terakhir terdengar lebih diarahkan bukan kepada Minho.

“Annyeong, Sulli, Minho,” seru Tiffany sesaat sebelum berlari mengejar Sooyoung yang sudah lebih dulu berjalan.

“Annyeong…”

Suara Sulli tidak bersemangat. Tentu. Bibirnya maju beberapa senti, namun ia tetap terlihat seperti boneka.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Bermainlah bersama teman-temanmu. Mungkin itu membuatmu senang,” hibur Minho setelah melihat ekspresi adiknya. Sulli mengangguk dengan lesu dan berjalan masuk ke kamarnya. Dalam hati Minho bertekad akan menanyakan pada Sooyoung alasan ia bersikap seperti itu pada Sulli. Ya, pasti.

Tunggu! Bukankah suasana hatinya juga sedang buruk hari ini? Bukankah tadi ia ingin melakukan sesuatu? Squash! Itu dia.

Minho berjalan menuruni tangga menuju squash court dan memikirkan banyak hal.

Keluarganya mungkin terlihat sempurna di mata semua orang. Mereka kaya, mereka menarik, mereka menyenangkan, mereka bisa melakukan apa pun yang mereka mau. Tapi sebenarnya mereka tidak tahu apa pun tentang keluarga Choi, keluarga yang diinginkan oleh semua orang.

-tobecontinued-

~^^~

Eh ya ampun belom ada ff yang beres udah bikin ff baru. bagus banget yaaa. XD

Dan ff macam apa ini?! *bows miannnn ~

Maaf ya, hanya sebatas fantasi saya pada orang-orang tinggi yang anehnya semuanya bermarga Choi ! hahahahaa.

Maklum, penat banget nih waktu ulum (>,<) jadi berkhayal yang aneh-aneh. LOL

Maap juga buat my hubby Siwon yang karakternya jadi gitu. Padahal sejak kapan dia jutek begitu hahahahaa ~

Oh yaa, mian juga buat Sooyoungie ^^ Tenang-tenang ini baru awal ~

Oh ya, hottest pinjem wooyoung! hahahaa. /lujugasemihottestdodol (?)

Komen dongggg ~ liat di statistic banyak yang dateng tapi komennya sepi ~ T____T

Enjoy! Gomawo ^^

Choi siblings jjang! ^^

Advertisements

18 responses »

  1. wuaaaaaa *sibuk spazzing gila-gilaan*
    ceritanya bagus banget!!!
    dan overall: perfect!!

    aku suka cara penulisannya (kamu konsisten untuk mencetak miring kata2 asing), dan istilah2 itu (mobil, game, dan segala macam benda-apalah itu), kamu bisa mendeskripsikannya dengan baik…

    dan kontennya bagus banget. konfliknya dapet..

    ohya, maaf langsung bawel aja ya
    sebelumnya perkenalkan dulu, aku summer. aku sooyoungster, kyuyoung shipper dan choi-siblings lover
    kalo sempat main ke blog-ku juga ya.. summerize.wordpress.com
    aku juga nulis ff

    lanjut ya author 😀

    • Hueee, makasih ya udah visit, dan komen yang paling penting hehehehee ^^
      gomawoooo ^^
      hmm, thx jg pujiannya. hehehee.. >///<
      malah tadi pas aku baca ulang banyak yang typo dan ceritanya anehh -___-
      hwhwhwhw ~
      wahhh, kyuyoung ~ aku juga suka mereka belakangan ini hehehe.. /toss
      okayy, pasti main ke blog mu cingu ^^
      sippppp ^^

  2. ya amppun itu ada apa–kenapa dengan Soo eonni? kenapa kayaknya jutek gitu sama Sulli> =.= Siwon juga galaak >.<
    Hawa-hawanya bakal ada Si-Fany 😛 habis ada Tiff jadi cast juga XD jadian ajaaalaah ~~ XDD

  3. Annyeong ^^~
    Aku Suka FF nya =))
    Choi Sibling 😀
    Kasihan Juga ya Sulli *ceramahin sooyoung*

    Ditunggu Lanjuttannya 😀

    • hehehe, makasih ya komennya ^^
      Wah, iya nih aku lama banget ya updatenya?
      Maaf /failblogger >,<
      udah ketemu kok ide part 2 nya, tapi belom diketik hehehehehe /plakkkk

  4. komen kok ini.. tadi nyasar dan terdampar disini. aku juga suka choi sibling!! mereka jjang!! kkk. jangshin juga maksudnya. oh iya, ga sopan, kenalan dulu deh. yasminh imnida, flames 93line. kkk. udah liat choi sibling moment di smtown 2014 ini belon? miris ya, ga ada sulli. kaya part ini yg dia ga dianggep. *soktauu*
    oke ijin skip ya, sekali lagi salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s