Neighbourhood *final

One of Icefishy’s stupid love story

Starring :

Jessica (SNSD) – Donghae (Super Junior) – Yoona (SNSD)

~^^~

Donghae berlari memasuki gerbang sekolah yang masih sepi. Tentu saja ia datang ke sekolah lebih pagi dari biasanya kali ini bukan tanpa alasan.

Donghae menghentikan langkahnya dan tersenyum senang melihat seseorang yang berjalan hanya beberapa langkah di depannya.

“Yoona!”

Teriakan Donghae membuat Yoona berbalik ke arahnya. Ia berlari kembali dan menyamakan langkahnya dengan gadis di depannya itu.

“Donghae-ya? Ada apa? Buru-buru sekali…”

Donghae tersenyum. “Tidak apa-apa. Sebenarnya aku ingin membicarakan tentang–”

“Jessica?” potong Yoona. Wajah Donghae memang jelas memperlihatkan apa yang ada dalam pikirannya. Donghae mengangguk.

“Hmm, sepertinya aku juga tahu apa yang mau kaubicarakan,” kata Yoona sambil tersenyum puas.

~^^~

Jessica turun dari bus memasuki gerbang sekolah dengan tidak terlalu bersemangat. Tentu, memangnya belakangan ini kapan ia terlihat bersemangat?

Jessica menarik nafas panjang. Sedikit banyak ia rindu hari-harinya yang dulu. Saat ia pergi ke sekolah dengan seseorang, saat ia mengobrol melalui jendela kamarnya dengan seseorang, saat ia bertengkar dengan seseorang, saat ia melalui banyak waktunya dengan seseorang.

Tapi seseorang yang ia maksud pasti tidak mungkin merasakan hal yang sama dengannya, karena sudah ada orang lain yang menggantikannya sekarang.

Jessica menghentikan langkahnya, menatap dua orang di hadapannya yang sedang berjalan bersama sambil sesekali tertawa-tawa kecil.

Sungguh, hal yang paling ingin dilakukan Jessica sekarang adalah memalingkan wajahnya. Tapi aneh, matanya tidak bisa lepas dari pasangan itu–Donghae dan Yoona.

Dan sedetik kemudian Jessica menyesalinya, menyesali mengapa ia tidak benar-benar memalingkan pandangannya sejak tadi, karena ia baru saja melihat pemandangan yang membuat hatinya semakin sakit.

Donghae–dia memeluk Yoona. Dan terlihat sangat senang melakukannya.

Sakit, hanya itu yang dirasakan Jessica. Benar-benar aneh. Donghae bukanlah siapa-siapanya, dia hanyalah sahabat Jessica yang sejak kecil selalu bermain bersamanya. Dan Yoona, dia adalah teman dekat Jessica yang selalu mendengarkan ceritanya tentang apapun.

Bukankah Jessica juga seharusnya berbahagia untuk mereka juga? Tapi mengapa itu sangat sulit?

Kenyataannya, melihat hal ini membuatnya ingin menangis. Sakit.

~^^~

Donghae terkejut mendengar penjelasan Yoona yang sama sekali tidak meleset tentang apa yang ingin dikatakan Donghae sebelumnya.

“Sejak kapan kau belajar ilmu membaca pikiran?” tanya Donghae polos. Yoona tertawa.

“Kemarin aku cerita banyak pada sepupuku. Dia memarahiku habis-habisan tentang rencana ini. Dari awal seharusnya aku tidak boleh memikirkan hal pengecut seperti ini.

“Dan aku minta maaf padamu karena telah melibatkanmu pada rencana bodohku dan merepotkanmu”

Yoona mengangguk. “Gwaenchana. Setidaknya rencana ini bisa membuatmu berpikir lebih dewasa kan? Mulai sekarang kau harus menunjukkan langsung perasaanmu pada sahabatku itu. Dia benar-benar terlihat uring-uringan belakangan ini. Kurasa dia juga tidak hanya menganggapmu seperti yang kaupikirkan.”

“Benarkah? Hmm, semoga saja. Yang jelas kali ini aku akan menuruti kata-kata sepupuku dan juga kata-katamu.”

Kali ini Yoona menggeleng. “Bukan itu yang penting. Yang terpenting adalah menuruti kata hatimu.”

Donghae menatap Yoona, tidak menyangka temannya yang satu ini sangat dewasa. Hal selanjutnya yang ia lakukan membuat Yoona terbelalak.

“Y..Ya! Donghae?!” seru Yoona sesaat setelah mendapatkan pelukan Donghae. Donghae tertawa melihat reaksi Yoona.

“Ini pelukan terima kasih, sekaligus pelukan persahabatan.”

Donghae dapat merasakan tarikan nafas lega dari Yoona. “Kukira kau benar-benar akan berpaling padaku,” kata Yoona lalu membalas pelukan Donghae.

“Donghae-ya! Hwaiting!”

Donghae tersenyum, melepaskan pelukannya dari Yoona dan mengacak rambutnya pelan. “Gomawo!”

~^^~

Jessica keluar dari gedung sekolah yang sudah sepi. Ia baru saja dipersilakan keluar dari kantor wali kelasnya, Kim Songsaengnim, karena dari enam guru yang mengajar hari ini, lima mendapatinya sama sekali tidak fokus pada pelajaran.

Bagaimana ia bisa fokus pada pelajaran? Kejadian tadi pagi membuat perhatiannya hanya tertuju pada Donghae dan Yoona.

Jessica menghembuskan nafasnya kasar. Ia menatap langit sore di hadapannya. Mendung, tidak ada matahari. Sedikit banyak sama dengan suasana hatinya saat ini.

Tiba-tiba tangan seseorang memegang pundaknya. Ia berbalik.

“Yoona-ah!” seru Jessica kaget. Namun tak lama kemudian ekspresi tersebut berubah ketus. “Kebetulan sekali kau tidak bersama kekasihmu!”

Jessica menyesali nada bicaranya yang sama sekali tidak ramah. Tapi Yoona hanya tersenyum. “Siapa maksudmu? Donghae?”

“Apa aku masih harus mengatakannya setelah melihat kalian berpelukan?” tanya Jessica, masih belum mengurangi nada ketus dari suaranya.

Yoona terlihat bingung sesaat. “Aku dan Donghae? Kapan?”

“Jangan kira karena tadi pagi sekolah masih sepi maka tidak ada yang melihat kalian.”

Yoona mengangguk mengerti dan tersenyum lagi tanda mengerti. “Kau cemburu.”

Deg! Dua kata tersebut mencelos ke dalam hati Jessica.

“Tidak, aku tidak cemburu padanya. Dia adalah sahabat yang sangat baik. Aku sangat menyayanginya. Tapi dia tidak sebaik itu sebagai kekasih, kau harus tahu!” elak Jessica, walaupun sebenarnya ia juga mulai ragu bahwa itulah alasan ia uring-uringan belakangan ini. Apa benar semata-mata karena takut Yoona tersakiti?

Yoona menggeleng yakin. “Salah, kau bukan hanya menyayanginya. Kau mencintainya.” Yoona menekankan kata-kata terakhir pada perkataannya. Dan Jessica hanya diam.

Oh, ayolah! batin Jessica, memerintah mulutnya agar segera membantah perkataan Yoona. Tapi entah apa yang menutup mulutnya, membuatnya tidak bisa terbuka. Walaupun Jessica sudah mencoba, tapi ia tetap tidak bisa.

Jessica menggerakan kakinya, berlari menjauhi Yoona. Hujan mulai turun, begitu juga air matanya yang juga mulai turun membasahi pipinya.

Entah mengapa hatinya terasa sangat sakit. Ada apa dengannya? Mengapa ia tidak bisa menyangkal perkataan Yoona?

Atau…ternyata apa yang Yoona katakan tadi memang benar, bahwa selama ini ia mencintai Lee Donghae?

Dan kalau itu benar, bagaimana dengan persahabatannya dengan Yoona?

~^^~

Donghae menatap jendela di rumah seberang. Tertutup, dan sepertinya belum ada orang di sana.

Donghae melihat jam tangannya. Jarum-jarumnya sudah hampir menunjukkan pukul 6 sore. Langit sudah mulai gelap, apalagi di luar hujan. Ia khawatir, kemana sebenarnya orang yang menempati kamar itu? Tadi Donghae menelepon ke rumahnya, tapi Ibunya berkata bahwa ia belum juga pulang dan belum ada kabar darinya.

Donghae meremas rambutnya. Tidak biasanya Jessica tidak memberi kabar kepada Ibunya. Kemana pun anak itu pergi, pasti ia membiarkan Ibunya tahu.

Sebenarnya, dimana Jessica? Apakah…

Dering ponsel Donghae membuyarkan pikirannya yang sudah mulai tidak wajar. Donghae membaca sekilas nama penelepon dari layar ponselnya.

“Krystal?” tanya Donghae sedikit kaget.

“Oppa! Unnie sudah pulang! Dia terlihat–”

BRAKKK!!

Tiba-tiba Donghae mendengar sesuatu dari seberang kamarnya. Seperti sebuah gebrakan pintu.

“Ooppsss,” suara Krystal terdengar sedikit bergetar. “Oppa dengar juga kan?”

Donghae mengangguk meskipun tahu Krystal tidak dapat melihatnya. “Ya…”

“Dia terlihat kacau, Oppa. Dia basah kuyup dan langsung berlari ke kamar. Sepertinya ia menangis. Untung Omma barusan pergi, ada arisan dengan teman-temannya. Kalau Omma melihatnya tadi, aku tidak tahu apa yang terjadi. Hiburlah dia, biasanya dia terlihat lebih baik setelah berbicara dengan Oppa.”

Donghae menarik nafasnya. “Baiklah, kucoba. Terima kasih, Krystal,” Donghae mengakhiri pembicaraan.

Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Donghae. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa yang membuat Jessica…menangis? Benarkah ia menangis?

Telepon genggamnya berdering lagi. Kali ini Donghae mengangkatnya tanpa melihat siapa yang menelepon.

“Yeobseyo?”

“Donghae-ah! Apa Jessica sudah pulang?”

“Yoona! Ah, baru saja…Tapi sepertinya ada yang tidak beres dengannya. Kau tahu sesuatu?”

~^^~

Jessica membanting pintunya. Sungguh, ia tidak bermaksud membuatnya bersuara sekencang itu. Hanya saja pikirannya kacau hari ini.

Badannya basah kuyup, ia kedinginan. Tapi ini tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya di dalam. Jessica benci ini. Air matanya mengalir deras, bercampur dengan air hujan yang tadi membasahinya.

Ia mendengar handphone-nya berbunyi.  Bahkan ia tidak dalam mood yang enak untuk mengambil ponsel dalam tasnya. Tapi sesuatu menggerakannya. Ia berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah meja belajar, melewati jendela kamarnya yang tertutup.

Pikirannya langsung melayang pada pria di seberang sana. Lagi, untuk kesekian kalinya di hari ini. Dan pria bernama Lee Donghae  itulah yang membuatnya menjadi seperti ini.

Jessica menarik nafas dalam-dalam dan menggelengkan kepalanya kuat-kaut. Tidak, ia tidak boleh memikirkan Donghae, Donghae  adalah milik Yoona, sahabatnya.

Ia mengambil ponsel dari tasnya. Sebuah pesan, ternyata.

From : Lee Donghae

Ya..! Anak nakal! Cepat mandi dan keringkan tubuhmu! Krystal meneleponku barusan, dia terdengar khawatir. Jangan sampai sakit karena kau akan membuat semua orang sedih.

Lagi-lagi Jessica menatap jendela kamarnya.

Bagaimana? Bagaimana ia bisa tidak memikirkan Donghae, kalau  pria itu tidak berhenti perhatian padanya?

Sebenarnya siapa yang jahat? Dia atau Lee Donghae?

~^^~

HATCHIII ~

Jessica merasa buruk pagi ini. Kepalanya pusing, sepertinya ia terkena flu akibat kemarin kehujanan. Dan matanya, OH! Matanya parah, bengkak karena semalaman ia menangis.

Ia terus memikirkan, apakah hari ini akan lebih buruk dari kemarin? Hanya ada satu cara supaya hal itu tidak terjadi, menghindari Donghae. Karena bila ia melihat pria itu, maka hatinya akan terasa sakit. Dan Yoona—Jessica harus bersikap biasa padanya, seakan-akan tidak terjadi apa-apa.

“Omma, aku berangkat!” kata Jessica dengan suara sengaunya.

“Sooyeon, kau yakin akan ke sekolah hari ini? Sepertinya kau kurang sehat,”  Omma berkata sambil memberikan kotak bekal pada Jessica.

Jessica menempelkan jari telunjuk dan ibu jarinya hingga membentuk huruf ‘O’. “Aku baik-baik saja. Aku pergi dulu!”

~^^~

Jessica tiba di sekolah sesuai dengan harapannya, saat bel beberapa menit lagi akan berbunyi dan anak-anak lain biasanya sudah siap di kelas masing-masing.

Begitu juga pada saat istirahat. Begitu bel berbunyi, ia langsung melesat ke perpustakaan, tempat yang bahkan tidak pernah ia mimpikan sebagai tempatnya menghabiskan waktu istirahat yang indah. Tapi kali ini ia harus mengalah pada mimpi itu. Walaupun Songsaengnim yang menjaga perpustakaan terus menegurnya karena ia tidak bisa berhenti bersin dan mengganggu anak-anak yang berada di sana.

Nasib Jessica tidak seburuk kemarin. Ia sukses menghindari Donghae dan Yoona sampai pelajaran terakhir. Setidaknya hampir, sampai ia keluar dari sekolah ini dan aman. Kecuali ada kejadian yang tidak ia inginkan sepulang sekolah.

Tapi sepertinya ia dapat bernafas lega. Yoona langsung pamit dan melesat keluar kelas beberapa saat setelah bel berbunyi. Pasti Yoona keluar tadi untuk langsung pulang bersama Donghae.

Deg! Memikirkannya membuatnya kembali tidak bersemangat. Tapi sudahlah, ambil sisi positifnya, dia tidak akan bertemu mereka berdua lagi–setidaknya untuk hari ini. Apalagi Jessica mendapat jadwal piket. Ia akan pulang setelah sekolah sudah sepi, sama seperti kemarin.

Huft! Jessica tersenyum puas. Akhirnya ia selesai juga dengan tugasnya ini. Walaupun flu-nya belum sepenuhnya sembuh. Terkadang ia masih tetap bersin-bersin sesekali, walaupun tidak separah tadi. Ia melihat langit melalui jendela kelasnya. Masih terang, walaupun saat ini langit yang ia lihat sudah mulai berwarna jingga kemerahan. Indah. Ia memang selalu menyukai langit sore seperti ini, bukan yang mendung seperti kemarin.

Sreggg! Mendengar pintu kelas tergeser, Jessica menoleh ke arah sumber suara. Matanya seketika membulat. Sepertinya semua suara sayup-sayup yang sedikit bisa ia dengar barusan menghilang. Ia hanya bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup lebih cepat dari normal ketika melihat seseorang di sana.

Lee Donghae, mengapa dia di sini?

~^^~

Donghae melangkahkan kakinya was-was menuju kelas yang terletak paling ujung di koridor. Pasalnya, seseorang yang ia cari ada di sana. Tentu saja ia tahu dari Yoona, informan yang paling berjasa bagi Donghae untuk mengetahui segala sesuatu tentang orang tersebut, Jung Jessica.

Donghae mengintip sedikit dari jendela. Ya, benar. Dia ada di sana, berdiri membelakanginya. Donghae sangat menyukai pemandangan ini, saat ia melihat siluet orang yang dicintainya terpancar oleh matahari sore yang berwarna jingga. Indah.

Donghae dapat merasakan detak jantungnya yang semakin tak beraturan. Ia mengambil nafas sejenak, meyakinkan dirinya sekali lagi, mengumpulkan segala keberanian yang ada padanya, dan akhirnya meraih pengangan pintu kelas.

Sreggg! Bahkan suara pintu yang tergeser itu belum siap untuk didengar Donghae. Ia menelan ludahnya dan menggeleng sesaat untuk menepis rasa takut yang dirasanya mulai muncul. Ia tidak boleh menyerah pada semua perasaan ini.

Dan siluet cantik itu berbalik menghadapnya tak lama kemudian, membatnya dapat melihat sisi lain tubuh Jessica–yang sama-sama dapat membuat Donghae tidak tahan untuk menarik kedua sisi bibirnya membentuk senyuman.

Mata besar itu membulat. Ekspresi Jessica benar-benar persis seperti dugaan Donghae sebelumnya. Dan melihatnya membuat Donghae sadar kalau ia benar-benar merindukan wanita itu.

“Donghae…” Suara Jessica terdengar sedikit sengau, tidak seperti biasanya.

“Kau…sakit?” tanya Donghae. Dalam hatinya khawatir. Ia tahu pasti, ini gara-gara kemarin Jessica kehujanan.

Wajah Jessica berubah dingin. “Untuk kau masih di sini dan memperdulikanku? Kau tidak menemani kekasihmu?”

“Aku–”

“Aku mau pulang. Permisi!”

Jessica mengambil tasnya cepat dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Namun selangkah sebelum wanita itu melangkahi Donghae, ia segera menahannya, menariknya kembali ke hadapan Donghae.

Jessica–yang kelihatannya benar-benar kaget atas perlakuan Donghae berusaha untuk melepaskan diri dari tangan Donghae yang menahan pundaknya.

“Dengar,” kata Donghae tak sabar. “Yoona, dia bukan kekasihku.”

Jessica sepertinya belum sadar benar apa yang barusan dikatakan oleh Donghae padanya. Ia terus memberontak, berusaha lepas dari cengkraman Donghae. Namun alih-alih lepas, cengkraman pria itu makin mengeras, hingga membuat Jessica meringis.

“Yoona. Dia. Bukan. Kekasihku.” Donghae menekankan setiap kata-katanya, berharap Jessica mendengarnya.

Keheningan itu terjadi. Tidak ada berbicara, mereka hanya bertatapan sebentar.

“Apa–” Jessica tidak meneruskan kata-katanya. Ia benar-benar terlihat bingung, sepertinya tidak mengerti perkataan Donghae.

Donghae menarik nafas sebentar. “Benar. Aku tidak pernah berpacaran dengan Yoona. Ini semua hanya sandiwaraku untuk mendapatkan perhatianmu.”

Mata Jessica membesar. “Tapi…kenapa?” suara sengau wanita tersebut mulai terdengar bergetar.

“Karena aku menyukaimu…”

~^^~

“Karena aku menyukaimu…”

Deg! Jessica yakin jantungnya sempat berhenti sesaat.

“…Apa?”

Jessica menunggu Donghae tertawa dan mengatakan ini hanya bercanda. Tapi ia tetap mendengar nada main-main Donghae yang biasanya.

“Kau tidak boleh melakukan ini, Lee Donghae. Bagaimana dengan Yoona? Bagaimana…?” tanya Jessica. Air matanya mulai keluar dari pelupuk matanya, membentuk sungai kecil di pipinya.

“Sudah kubilang,” nada bicara Donghae sudah mulai terdengar frustasi. “Yoona bukan pacarku. Aku hanya berpura-pura selama ini di depanmu. Aku hanya bisa bersembunyi di belakan gadis-gadis yang selama ini aku kencani, aku hanya bisa bersembunyi di balik bantuan Yoona, aku hanya bisa bersembunyi di balik rasa pengecut yang ada dalam diriku…”

Jessica hanya diam, ia terlalu kaget untuk mendengar ini semua.

“Dan sekarang aku tidak ingin melukai siapa pun lagi. Aku hanya ingin jujur pada perasaanku, pada semua orang, padamu kalau aku…hanya menyukaimu. Saranghae, Jung Sooyeon…”

Jessica menggeleng pelan, walaupun ia sendiri tidak tahu untuk apa dia melakukan itu. Ia hanya tidak bisa berpikir saat ini.

Donghae lagi-lagi menarik nafas dalam dan menunduk, perlahan ia melepaskan cengkramannya dari pundak Jessica.

“Kau tahu, saat aku mengatakan ini bukan berarti aku memaksamu untuk memiliku rasa yang sama denganku. Aku hanya ingin kau percaya pada setiap ucapanku, karena memang ini yang kurasakan sejak dulu. Dan juga aku ingin kau jujur pada dirimu sendiri.”

Donghae mengangkat kepalanya menghadap Jessica. Dan Jessica belum pernah melihat tatapan sahabatnya sejak kecil yang seperti ini, antara cemas, pasrah, dan memohon. Tapi ia juga melihat ada ketulusan di sana, yang membuatnya benar-benar percaya pada setiap kata yang diucapkan Donghae.

“Bila kau hanya bisa menganggapku sebagai sahabatmu seperti dulu, aku tidak bisa memaksamu. Setidaknya biarkan persahabatan itu tetap ada, jangan sampai menghilangkannya. Karena aku ingin kau tetap bersandar padaku, walaupun sebagai sahabat. Dan setidaknya aku sudah lega mengatakan semua ini padamu…”

Donghae kembali menunduk. Jessica menghapus air matanya dengan satu gerakan singkat.

Jessica bingung. Sebuah dilema muncul di hatinya. Bohong besar kalau ia berkata ia tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Donghae. Apa yang selama ini membuatnya terus uring-uringan dan hampir menangis tiap malam? Bukankah semua itu karena Donghae yang ia tahu sudah jadian dengan Yoona?

Dan itulah yang menjadi dilemanya. Bagaimana dengan Yoona?

Tapi Donghae memintanya untuk jujur pada dirinya sendiri barusan.

Jessica membuka mulutnya, membulatkan keputusannya.

“Aku…Aku juga menyukaimu, Lee Donghae babo!” teriak Jessica. Dan itu membuat kepala Donghae reflek terangkat dan matanya berbinar. Namun air mata Jessica turun lagi. “Tapi aku tidak bisa memilih antara kau dan Yoona. Bagaimana jika Yoona akan terluka mengetahui ini? Aku sayang padanya. Aku–”

Sebuah pelukan menghentikan mulut Jessica. Ia tidak tahu ini salah atau benar, tapi pelukan ini benar-benar terasa…hangat.

“Babo! Aku tahu kau adalah sahabat yang baik, tapi Yoona akan bahagia dengan orang yang dicintainya, yaitu…” Donghae berhenti.

“Siapa?” tanya Jessica penasaran.

“Itu tidak penting sekarang. Kau akan mengetahuinya nanti.”

Donghae belum melepaskan pelukannya. “Ngomong-ngomong…Terima kasih. Kau membuatku sadar, ternyata jujur pada perasaan itu jauh lebih baik daripada menutupinya. Setidaknya aku jadi mengetahui perasaanmu padaku. Terima kasih juga untuk itu,” kata Donghae pelan tepat di telinga Jessica.

“Jadi, berarti sekarang kita…” Donghae berdeham sedikit. “Resmi berkencan, kan?” tanya Donghae. Walaupun tidak melihatnya, tapi Jessica tahu wajah Donghae pasti memerah sekarang, begitu juga dengan wajahnya.

Jessica mengangguk di pundak Donghae. “Tapi jangan kau memperlakukanku seperti kau memperlakukan gadis-gadis yang sebelum ini kaukencani. Karena aku tidak akan segan-segan bila itu terjadi!”

Donghae tertawa–tawa renyah. Ia melepaskan pelukannya, memegang pundak Jessica, dan menatap matanya lekat. “Tentu saja tidak akan. Aku tidak akan melepaskanmu,” katanya mantap.

Jessica tersenyum. Ia benar-benar percaya pada Donghae, dan menurutnya itu bagus. Tidak ada yang salah dengan itu sekarang. Jessica merasa sangat nyaman. Sepertinya beban yang selama ini dipendamnya sudah terangkat. Dan ia yakin perasaan seperti ini juga yang dirasakan Donghae sekarang.

“Hmm,” tiba-tiba Donghae bergumam gugup. “Bolehkah aku…?”

Detak jantung Jessica berubah cepat dan tak beraturan. Donghae mendekatinya dan sekarang wajah Donghae hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Perlahan Jessica menutup matanya, merasakan nafas Donghae yang semakin mendekat.

“HATCHIII~”

Bersin itulah yang menghentikan segalanya. Mendadak Jessica menyesal mengapa kemarin ia hujan-hujanan sampai terkena flu.

“Maaf…”

Donghae menatapnya dan tertawa. Ia mencubit gemas kedua pipi Jessica.

Gwaenchana…Kita masih punya banyak waktu kan?”

Jessica yakin,  ia baru menyadari wajah Donghae ternyata setampan ini.

“Ayo!” Donghae mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jessica.

“Kita sekarang harus membantu Yoona juga,” kata Donghae menggeser pintu kelas dengan tangannya yang bebas.

Namun saat Donghae dan Jessica keluar, mereka melihat sesuatu di ujung koridor sana.

Yoona. Dan ia tidak sendiri, seorang pria terlihat berdiri di sampingnya.

“Mungkin…Yoona tidak membutuhkan bantuan kita lagi sekarang.”

~^^~

Yoona tersenyum melihat kedua sahabatnya di balik jendela pintu kelas. Akhirnya mereka bisa mengungkapkan perasaan mereka, dan ia ikut berbahagia soal itu.

Yoona menarik nafas panjang dan pergi dari sana. Jujur, ia sedikit banyak iri pada Donghae dan Jessica. Kapan ia bisa begitu dengan orang yang disukainya? Sepertinya memang sudah tidak ada harapan…

Yoona hampir berbelok di ujung koridor, sebelum seseorang mengagetkannya.

Kibum, pria itu di sana. Nafasnya tersengal-sengal, rambutnya terlihat sedikit acak-acakan, dan masih tetap dapat membuat jantung Yoona berdegup dua kali lebih cepat.

“Akhirnya,” gumam Kibum pelan, namun Yoona tetap bisa mendengarnya. “Dari tadi aku mencarimu.”

Yoona merasa ada yang salah dengan pendengarannya.

Kibum mencariku?

“Ada apa Kibum-sshi?”

“Hmm…” Kibum terlihat kikuk. Ia menggaruk kepalanya singkat. “Aku hanya ingin mengajakmu pulang bersamaku. Bukankah rumah kita searah?”

Kibum memperlihat senyumannya yang membuat Yoona hampir melompat kegirangan.

“Jadi?” tanya Kibum cemas.

Yoona mengangguk, sebuah anggukan malu-malu yang cantik.

Bolehkan ia berharap untuk segera menyusul Donghae dan Jessica?

~^^~

YESSSSS ~

akhirnya ni ff beres juga wkwkwk…

Ini bukan ff perdanaku, tapi ini ff pertamanya yang berhasil aku selesaikan hahahaha ~

Maaf ya, updatenya lamaaaa ~ maklum, udah kelas 3 SMA. bentar’ ada pra UAN, bentar’ ini, bentar’ itu. Mana harus mikirin buat SNMPTN juga. Huah, pokonya pusing ~ wkwkwk

makanya, doain aku yah supaya UAN sama SNMPTN nya lancar. =)

Oh yaaa, komen dong. Mengecewakan atau tidak?

Feedback feedback hehehe =)

Buat side story, ada kok. tapi aku ga janji pos nya kapan. makanya doain aku biar semuanya lancar yaaa. okay!!! wkwkwkwk..

gomawo…

skalian nih, mau promosi twitter ah =p

@shawtychibi

ayo follow, ntar aku folbek =))))

skali lagi, makasih lho ^^

Advertisements

11 responses »

    • legaaa, hahaha. aku bacanya di sekolah–mumpung pas ngga ada guru. udah senyum-senyum aja sendirian, di bangku mana tempat duduk di paling pojoklah.
      XD

      sempet geregetan sama Sica unni, ya ampppuuun~~~ teh nyadar lama bangetan yah harus ujan-ujanan sampe sakit begitu ckckckckck.
      siapa pun pasti meleleh itu cewek-cewek–kalau Donghae udah natap dengan tatapan memelas hahaha.

  1. Wah,,,crita’nya asiik chingu…Happy ending,,,
    ahh,,hae..akhrnya kau brani jg nembak jessica…
    haesica-Yoonbum,,hmm,,,aq suka sama 2 pairing ini..

    O yah,,hwaiting chingu,m0ga ujian’nya lancar en lu2s dgn nilai yg memuaskan…

    • hehehe =)
      makasih ya komennya.
      yep, aku juga suka haesica yoonbum. *toss
      walaupun yoonbum udah lamaaaaaaa banget ga ada perkembangan (?)
      sipp, makasih juga lho doanya. sama’ semoga lancar juga hehehe =)

  2. legaaaaaa…
    Smpat ssak npas jga tde aq.. Yaa wjarlc twins qu ssak npas, aq jdi ikutan*abaikan..
    Akhirnya,,, ikan brni jg mnggkpkn prsaannya.. Dan sersant eonnie mnrimanya..
    Yoonbum jga bkalan nysul tc… Bguz…
    Eonnie klz 3 SMA?? Aq klz 3 SMP*gk nnya*..
    Fighting.. !! Tuk aq ‘n cmua chingudeul yg gy mghdpi Ujian..
    Fighting…………………….*saraf gilanya kmbuh*

    • hahahaha.
      iya nih yoonbum \^^/
      ntar ah aku bikin yoona birthday project =)))))
      wah, kita sama’ mau ujian ya? ayo ayo mari kita semangat! ^^
      oh yaa, aku mau minta maaf sama kamu, update nya lama banget ya? hehehe..miannn…^^

  3. akhirnya si fishy pabo itu ngaku sama sica kalo dia itu suka ..
    ahh yoonbum di end bikin senyum..
    ah suka deh ini ff walo nunggunya lama ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s